MEDIA TERHUBUNG – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa kemudahan dalam berbagai aktivitas. Namun, teknologi ini juga memunculkan ancaman baru di dunia digital, salah satunya yang marak terjadi adalah video deepfake yang dapat memanipulasi wajah, suara, dan gerakan seseorang hingga tampak menyerupai rekaman asli.
Kemampuan AI dalam menghasilkan konten visual dan audio yang realistis membuat masyarakat perlu semakin berhati-hati saat menerima informasi melalui media sosial maupun platform digital lainnya. Pasalnya, teknologi tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan hiburan dan kreativitas, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu, melakukan penipuan, hingga merusak reputasi seseorang.
Deepfake merupakan konten digital yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan teknologi pembelajaran mendalam (deep learning). Melalui teknologi ini, pelaku dapat meniru ekspresi wajah, menyelaraskan gerakan bibir, serta menghasilkan suara yang menyerupai individu tertentu.
Deepfake Berpotensi Dimanfaatkan untuk Kejahatan Digital
Ancaman deepfake tidak terbatas pada penyebaran hoaks. Teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk menyamar sebagai orang lain, memalsukan identitas digital, hingga mendukung aksi penipuan yang menyasar masyarakat maupun sektor keuangan.
Berdasarkan informasi yang dicantumkan dalam bahan pemberitaan ini, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) melaporkan kerugian sektor keuangan Indonesia sekitar Rp 700 miliar atau setara dengan 44 juta dollar AS dalam periode yang disebut berlangsung antara November 2024 hingga Februari 2025. Angka tersebut dikaitkan dengan berbagai kasus penipuan, termasuk yang melibatkan deepfake.

