MEDUA TERHUBUNG — Plastik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari kemasan makanan dan minuman hingga berbagai produk rumah tangga. Namun, ketika plastik terurai menjadi partikel berukuran sangat kecil, pencemarannya menjadi lebih sulit dikenali dan dikendalikan. Partikel tersebut dikenal sebagai mikroplastik dan kini menjadi perhatian dalam penelitian lingkungan maupun kesehatan manusia.
Mikroplastik umumnya didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Partikel ini dapat terbentuk ketika plastik berukuran besar mengalami degradasi atau berasal dari bahan yang sejak awal diproduksi dalam ukuran kecil. Menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), mikroplastik telah menjadi bagian dari pencemaran lingkungan, khususnya di ekosistem laut, dan dapat masuk ke rantai makanan.
Keberadaan mikroplastik tidak terbatas pada lautan. Partikel tersebut juga ditemukan di air tawar, tanah, udara, dan berbagai sumber pangan. Kondisi ini membuat paparan mikroplastik menjadi perhatian karena manusia dapat terpapar melalui aktivitas sehari-hari, terutama melalui makanan, minuman, dan udara yang dihirup.
Mikroplastik Dapat Masuk ke Tubuh Manusia
Paparan mikroplastik dapat terjadi tanpa disadari. Partikel tersebut berpotensi masuk ke tubuh ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi maupun menghirup udara yang mengandung partikel plastik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengkaji paparan mikroplastik melalui makanan, air, dan udara. Dalam laporan yang diterbitkan pada 2022, WHO menyoroti masih adanya kesenjangan pengetahuan mengenai tingkat paparan serta dampak partikel mikroplastik dan nanoplastik terhadap kesehatan manusia.

