MEDIA TERHUBUNG - Penguatan nilai tambah sektor pertanian dan pembenahan sistem logistik menjadi tantangan penting dalam mendorong pembangunan ekonomi Lampung. Prof. Ayi menjelaskan, peningkatan pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tantangan pembangunan daerah. Ia menyinggung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang direncanakan Presiden Prabowo, seraya menekankan bahwa pencapaiannya membutuhkan langkah besar, terutama bagi daerah yang tidak memiliki sumber daya mineral sebagai penggerak ekonomi.
Menurutnya, Lampung memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui sektor pertanian. Tantangannya adalah bagaimana komoditas yang dihasilkan mampu memberikan nilai tambah melalui pengolahan dan pengembangan industri turunan.
“Bagaimana sumber daya Lampung berbasis agriculture atau pertanian itu bisa punya nilai yang sama, itu tantangannya,” ujar Prof. Ayi.
Ia mencontohkan singkong sebagai salah satu komoditas yang dapat dikembangkan melalui berbagai produk turunan. Pengolahan singkong tidak seharusnya berhenti pada produk mentah atau tapioka, tetapi dapat diarahkan pada industri dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi, termasuk pengembangan bahan baku untuk produk lain dan bioetanol.
Menurutnya, pendekatan tersebut dapat memperluas manfaat ekonomi dari sektor pertanian sekaligus mendorong peningkatan produktivitas. Pengembangan industri turunan juga perlu disertai dengan penguatan ketahanan pangan agar peningkatan produksi tetap sejalan dengan kebutuhan daerah.
Selain hilirisasi, Prof. Ayi menyoroti persoalan sistem logistik dan kondisi infrastruktur jalan. Posisi Lampung sebagai gerbang utama menuju Pulau Sumatra dari Pulau Jawa membuat kelancaran angkutan barang menjadi aspek penting dalam mendukung aktivitas ekonomi. Ia menjelaskan bahwa kendaraan angkutan dengan dimensi dan muatan berlebih atau over dimension over loading (ODOL) menjadi salah satu tantangan bagi pemeliharaan jalan. Beban kendaraan besar dapat berdampak pada kondisi jalan, baik di jalan tol maupun jalan nasional dan provinsi.

