Dalam penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal ilmiah dan tersedia di PubMed Central dengan judul The Relationship Between Smartphone Usage and Sleep Quality Among Medical Students, peneliti mengkaji hubungan antara durasi penggunaan smartphone dan kualitas tidur mahasiswa kedokteran. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 280 mahasiswa di Rawalpindi Medical University, Pakistan, pada 8 Juli hingga 7 Agustus 2019.
Penelitian ini mengukur durasi penggunaan layar atau screen time melalui aplikasi pada smartphone Android. Sementara itu, kualitas tidur diukur menggunakan instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Dalam penelitian tersebut, skor PSQI global di atas 5 dikategorikan sebagai kualitas tidur yang buruk.
Penggunaan smartphone menjelang waktu tidur menjadi perhatian karena layar perangkat memancarkan cahaya biru dengan panjang gelombang sekitar 380–495 nanometer. Cahaya tersebut dapat menekan produksi hormon melatonin, yang berperan dalam mengatur siklus tidur dan bangun. Perubahan produksi melatonin berpotensi mengganggu pola tidur dan memengaruhi kualitas istirahat seseorang.
Dampak kualitas tidur yang buruk tidak hanya berkaitan dengan rasa lelah pada keesokan harinya. Sejumlah penelitian yang dirujuk dalam artikel tersebut mengaitkan gangguan tidur dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk kenaikan berat badan, obesitas, sindrom metabolik, hipertensi, gangguan toleransi glukosa, dan diabetes.
Selain itu, kurang tidur dapat memengaruhi fungsi kognitif serta berkaitan dengan masalah kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, dan depresi. Karena itu, kualitas tidur menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Untuk mengukur hubungan antara penggunaan smartphone dan kualitas tidur, penelitian tersebut mengumpulkan data durasi penggunaan layar selama 30 hari. Para peneliti kemudian membandingkan data tersebut dengan skor kualitas tidur partisipan melalui analisis statistik.

