MEDIA TERHUBUNG – Peta konflik global mengalami perubahan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Sejumlah kawasan dunia mencatat peningkatan intensitas konflik, terutama Eropa dan Asia Tengah serta Timur Tengah dan Afrika Utara. Eskalasi geopolitik, perang antarnegara, hingga ketegangan regional menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya peristiwa konflik di berbagai belahan dunia.
Berdasarkan data yang dikompilasi oleh Bank Dunia untuk periode 2018 hingga 2025, Eropa dan Asia Tengah serta Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi dua kawasan yang memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan konflik global. Kenaikan tersebut tidak hanya terlihat dari jumlah peristiwa konflik, tetapi juga dari intensitas dan skala kekerasan yang terjadi.
Salah satu pemicu utama meningkatnya konflik di Eropa dan Asia Tengah adalah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam dinamika keamanan internasional dan berdampak luas terhadap hubungan geopolitik, khususnya antara Rusia, NATO, Uni Eropa, serta negara-negara di sekitarnya.
Dampak konflik Rusia-Ukraina juga tercermin dalam peningkatan intensitas konflik di kawasan tersebut. Data menunjukkan bahwa jumlah peristiwa konflik per satu juta penduduk meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari 4,6 pada Maret 2018 menjadi 17,5 pada Mei 2025.
Sejak pertengahan 2022, Eropa dan Asia Tengah bahkan mencatat tingkat konflik yang melampaui sebagian besar kawasan lainnya. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana satu peristiwa geopolitik besar dapat memicu perubahan signifikan terhadap stabilitas keamanan regional.
Timur Tengah dan Afrika Utara juga mengalami peningkatan eskalasi konflik yang cukup tajam. Kawasan ini memang telah lama menghadapi persoalan ketidakstabilan politik dan keamanan. Namun, situasi semakin memburuk setelah serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023 yang kemudian diikuti operasi militer Israel di Jalur Gaza dan memicu eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.

