MEDIA TERHUBUNG — Kopi susu kekinian, teh manis, minuman boba, hingga milk tea menjadi pilihan minuman yang akrab dengan kehidupan generasi muda. Rasanya yang manis, beragam variasinya, dan kemudahannya untuk ditemukan membuat minuman berpemanis kerap menemani aktivitas sehari-hari. Namun, di balik popularitasnya, konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk diabetes melitus tipe 2.
Survei Jakpat yang dilakukan pada 6–9 Desember 2024 terhadap 1.155 responden Generasi Z di Indonesia menunjukkan bahwa minuman manis masih menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi kelompok usia ini. Data yang diulas GoodStats pada 12 Januari 2025 menyebutkan bahwa hampir separuh responden Gen Z mengonsumsi minuman manis satu hingga tiga kali sehari.
Teh manis menjadi minuman berpemanis yang paling banyak disukai. Sebanyak 63 persen responden laki-laki dan 71 persen responden perempuan memilih minuman tersebut. Sementara itu, kopi manis disukai oleh 59 persen responden laki-laki dan 48 persen responden perempuan.
Minuman manis kekinian, seperti bubble tea dan milk tea, juga memiliki peminat tersendiri. Jenis minuman ini dipilih oleh 29 persen responden laki-laki dan 40 persen responden perempuan. Angka tersebut memperlihatkan popularitas minuman berpemanis di kalangan anak muda, meskipun preferensi terhadap setiap jenis minuman berbeda.
Kebiasaan Manis dan Risiko Diabetes
Konsumsi minuman manis tidak serta-merta menyebabkan seseorang mengalami diabetes. Namun, kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan, terutama dalam jangka panjang, dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko kesehatan.

